Laju Bisnis Koperasi di Tangan Anak Muda

Siapa yang menyangka, bisnis ternak sapi yang dimotori anak-anak muda pada 1994 di Desa Cipari, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, kini berkembang pesat hingga kawasan itu kondang sebagai penghasil susu.

Anak-anak muda di Desa Cipari kala itu membentuk kelompok peternak sapi. Seiring keseriusan bisnis, kelompok usaha ini berkembang pesat sebagai penghasil susu sapi di bawah kibaran bendera Koperasi Serba Usaha (KSU) Karya Nugraha Jaya (KNJ).

Awalnya, mereka hanya mampu menghasilkan produksi susu sapi sebesar 200 liter per hari. Perlahan namun pasti, pada 1998 meningkat menjadi 3.000 liter per hari. Kini, KSU Karya Nugraha Jaya sudah mampu memproduksi 35 ribu liter per hari, atau sekitar satu juta liter susu per bulan.

“Hasil yang kami raih tak lepas dari kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk dengan pemerintah pusat dan daerah,”
Iding Karnadi, Ketua Umum KSU KNJ

Raihan kinerja tersebut membuktikan bahwa koperasi mampu melewati berbagai rintangan. Saat ini, dari total 96 koperasi susu di Pulau Jawa, hanya tersisa 57 koperasi yang masih eksis. Salah satunya adalah KSU Karya Nugraha Jaya.

Di wilayah Cigugur sendiri terdapat empat koperasi yang bergerak di sektor usaha susu sapi, dengan total produksi mencapai 50 ribu liter per hari, di mana 35 ribu liternya berasal dari KSU Karya Nugraha Jaya.

Iding menyebutkan, pelayanan koperasi meningkat setiap tahun sehingga jumlah anggota pun terus bertambah. Dari awalnya hanya 15 orang dalam kelompok peternak, kini sudah berkembang menjadi 1.000 peternak anggota KSU KNJ. Mereka berasal dari beberapa desa, seperti Cipari, Gunung Keling, Cisantana, Puncak, Babakan Mulya, hingga Cileuleuy.

Omzet dan Industri Susu

Omzet KSU KNJ kini mencapai sekitar Rp6 miliar per bulan. Dari total produksi susu, 90% dipasok ke industri besar (seperti Ultra Jaya Bandung dan Diamond Jakarta), sedangkan 10% lainnya diserap industri kecil di wilayah Cigugur.

Bahan mentah susu juga dimanfaatkan untuk berbagai produk olahan seperti yoghurt, permen, hingga minuman berbasis susu lainnya. Banyak produk olahan tersebut kini menjadi ciri khas usaha kecil di Cigugur.

Gas dan Pupuk: Tantangan Baru

Namun, bisnis ini tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah dampak negatif dari kotoran sapi yang menumpuk di kawasan Sentra Sapi Perah, Kecamatan Cigugur. Kondisi ini menimbulkan keresahan masyarakat.

“Hampir semua peternak sapi anggota KSU KNJ hanya memiliki lahan terbatas, tanpa ada unit pengolahan limbah kotoran sapi,”
Iding Karnadi

Solusi yang ditawarkan antara lain pembangunan kolam penampungan dan penyaringan, pengolahan kotoran sapi menjadi biogas dan pupuk organik, hingga relokasi kandang sapi ke wilayah yang jauh dari pemukiman.

Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM juga turut memberikan dukungan dengan mendorong koperasi peternak sapi di Kuningan membangun pabrik pupuk organik berbasis kotoran sapi. Beberapa mitra yang dilibatkan antara lain PT Pupuk Indonesia (holding), PT Petrokimia Gresik, dan PT Pupuk Kujang.

Jika program ini berjalan, kotoran sapi yang selama ini menjadi masalah, bisa diubah menjadi sumber energi dan bahan baku pupuk.

Menuju Industri Modern

KSU KNJ kini sudah menggunakan teknologi modern Milk Cooling Unit (MCU) untuk menjaga kualitas susu. Namun, Iding mengakui bahwa 99% peternak sapi masih mengandalkan keterampilan tradisional.

Karena itu, koperasi bertekad meningkatkan kualitas SDM peternak agar mampu memenuhi kebutuhan pakan ternak sendiri, meningkatkan kualitas susu, sekaligus memperkuat daya saing.


📌 Kesimpulan:
KSU Karya Nugraha Jaya menjadi bukti nyata bahwa koperasi yang dimotori anak muda bisa tumbuh pesat, bahkan di sektor tradisional seperti peternakan sapi perah. Dengan produksi 35 ribu liter susu per hari, koperasi ini tidak hanya menggerakkan ekonomi lokal, tetapi juga menjadi mitra penting bagi industri besar nasional.