
Bandung – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendorong penguatan subsektor peternakan sapi perah melalui penyaluran kredit perbankan. Potensinya diperkirakan bisa menembus Rp 1 triliun, sehingga mampu mendukung pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.
Berdasarkan data per Juni 2025, penyaluran kredit sapi perah di Jawa Barat tercatat Rp 230,94 miliar, naik 2,62% dari tahun sebelumnya. Namun jumlah tersebut baru 1,07% dari total kredit sektor pertanian sebesar Rp 21,63 triliun.
Kepala OJK Jawa Barat, Darwisman, menjelaskan kerja sama ini diharapkan dapat mempercepat penyaluran kredit kepada peternak sapi perah dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian. OJK juga berkomitmen memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, perbankan, serta pemangku kepentingan lain untuk meningkatkan kemandirian ekonomi desa, literasi, dan inklusi keuangan.
Saat ini, Jawa Barat menghadapi kekurangan populasi sapi perah akibat dampak penyakit mulut dan kuku (PMK) pada 2022. Tercatat ada kekosongan kandang untuk 21.550 ekor sapi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan pengadaan 3.500 ekor sapi dengan estimasi dana sekitar Rp 157,5 miliar.

Sekda Jawa Barat, Herman Suryatman, menyebut langkah ini sejalan dengan RPJMD Jabar 2024–2029. Jumlah sapi perah di Jabar tahun 2025 hanya sekitar 14.000 ekor, turun dari 30.000 ekor sebelumnya. Akibatnya, produksi susu hanya mencapai 239 ribu ton per tahun, padahal kebutuhan masyarakat mencapai 336 ribu ton.
“Dengan pengembangan peternakan sapi perah, kami menargetkan produksi susu Jawa Barat bisa menjadi peringkat pertama nasional dalam dua tahun ke depan. Ini juga bagian dari strategi ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” jelas Herman.

